Detox Media Sosial dan Jalani Hidup Apa Adanya



Media social sudah merupkan bagian dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat di dunia. Dalam laporan Facebook saja, pada 2019 rata-rata waktu yang dihabiskan penguna social media ialah 2 jam 24 menit perhari. Social media di design memang untuk membuat penggunanya ketagihan untuk berlama-lama menggunakan aplikasi nya. Lewat social media kita bisa melihat kehidupan orang lain lewat postingan mereka. Membuat kita terlena untuk ingin punya kehidupan seperti orang lain dan lupa untuk jalani hidup apa adanya tanpa syarat dan ketentuan (Sudah terdengar seperti promosi belum? Haha)



Bahagia dengan cara simpel, cuma butuh eksplor tempat indah didekat rumah

Bekerja sebagai seorang yang bertugas untuk mengelola akun social media beberapa brand menjadikan social media sebagai lahan bekerja saya sehari-hari. Pekerjaan saya menuntut saya untuk berlama-lama menggunakan social media. Mulai dari posting konten untuk klien, membangun engagement dengan followers, mempelajari tren terkini, sampai mencari inspirasi postingan bulan berikutnya. Kebayang kan seberapa sering saya menggunakan media sosial?

Tingginya konsumsi waktu saya dalam menggunakan aplikasi media sosial dalam pekerjaan saya membuat saya untuk memutuskan memulai detox media social pribadi saya. Sudah beberapa bulan ini saya mulai menerapkan detox media sosial untuk diri saya pribadi untuk hidup yang lebih positif dan penuh rasa syukur.

Saya menyadari betapa besar pencitraan yang dilakukan banyak orang di media sosial mereka. Pencitraan yang membuat hidupnya terlihat bahagia dan sempurna. JIka saya lengah, sangat mudah untuk tergoda mengubah gaya hidup seperti mereka. Atau bahkan bisa membuat saya merasa ketinggalan ketika saya tidak mampu mengikuti tren yang ada; trend smartphone terkini, smartwatch, kamera dslr, dan lainnya.

Selain pencitraan ada juga isu jumlah followers. Banyak dari teman-teman blogger yang saya lihat pertumbuhan jumlah followernya sangat pesat, sedangkan saya disitu-situ aja yang kadang membuat saya hampir tergoda untuk cari jalan pintas, beli follower aja. Dengan harapan biar dengan jumlah follower yang tinggi bisa dilirik banyak brand. Tapi setelah dilihat-lihat ternyata jumlah follower yang tinggi tidak menjamin akun mereka punya engagement yang tinggi. Membuat saya bersyukur walaupun jumlah follower cuma tiga ribuan tapi engagement saya cukup bagus. Yah mungkin karena follower saya orang-orang nya real.

Media sosial juga sempat membuat kebahagiaan saya seperti terpatok pada jumlah like dan comment dari orang lain. Membuat saya menjadi sangat picky dalam memilih konten untuk diposting. Membuat saya menjadi sangat lama menulis caption karena ingin memastikan caption saya menarik dan mengundang komentar orang banyak. Membuat saya menghabiskan waktu yang lama untuk mencari hashtags yang tepat. Lalu tanpa sadar, waktu saya terbuang cukup lama hanya untuk satu postingan media sosial. Waktu yang semestinya bisa saya gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Lebih produktif.

Selain membatasi durasi penggunaan social media pribadi, saya sendiri juga mulai mengisi list following saya dengan akun-akun yang menyebarkan hal positif dan sesuai dengan minat saya. Dengan harapan social media bisa menjadi wadah yang dapat memberikan dampak bagi saya.

Tahun ini saya ingin lebih fokus berkarya dalam bidang marketing dengan meningkatkan skill marketing saya. Saya mulai follow akun-akun marketer yang menginspirasi dan membagikan konten-konten bermanfat bagi saya seperti Gary Vee, salah satu marketer idola saya.

Selain itu, saya juga ingin fokus pada kesehatan mental, fisik, dan finansial. Tentunya saya banyak follow para influencer yang sering membagikan tips bermanfaat seputar fitness, pola makan yang sehat dan investasi.

Selama masa detox media sosial ini saya juga belajar bahwa untuk bahagia, kita tidak perlu pura-pura dan menipu diri sendiri. Syukuri dan jalani saja hidup apa adanya. Ciptakan momen bahagia untuk membahagiakan orang lain, bukan agar orang lain bisa menilai bahwa kamu bahagia. Bahagia itu tidak perlu validasi. Bahagia itu bisa kita ciptakan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Saya juga sangat terinspirasi dengan video YouTube IM3 Ooredoo tentang hidup tanpa syarat dan ketentuan


Mengingatkan saya untuk berani ekspresikan diri di social media pribadi tanpa perlu pusing mikirin caption yang ‘wah’ dan puluhan hashtags seperti yang saya lakukan untuk akun klien saya, dan tampilan feed media sosial saya.

IM3 Ooredoo juga hadir dengan produk Freedom Internet terbarunya yang simpel, bebas syarat dan ketentuan. Paket ini menawarkan kuota utama yang dapat digunakan 100% penuh untuk semua jaringan dan aplikasi. Jadi tidak ada lagi pembatasan kuota untuk jaringan 4G & 3G. Sangat mendukung siapa saja untuk berkespresi tanpa terbatas jaringan. Juga mendukung saya untuk mengalihkan kuota internet ke hal positif lainnya selain media sosial.


Apakah kamu berani mulai detox media sosial, ekspresikan diri dan kepura-puraan dan jalani hidup apa adanya?

5 comments

  1. Main sosmed memang dibutuhkan kejujuran agar tidak ada kepura-puraan dan modus tipu-tipu ya kaya IM3 Ooredoo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kak. Udah gak jaman modus-modusan ya hehe

      Delete
  2. Jujur sifatku...
    Im3 ooredooo kartu kebanggaanku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jyga udh lama banget pake Ooredoo kak :)

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete