Revolusi Penangobatan Kanker Payudara: Trastuzumab Subkutan untuk HER2-Positif Stadium Awal


Sebagai wanita, tentunya saya beresiko tinggi untuk terkena kanker payudara. Mengerikan memang jika dibayangkan. Namun, selama ini saya tidak pernah membayangkan bahwa selain menderita karena rasa sakit yang menggerogoti tubuh, penderita penyakit tersebut pun harus menghabiskan waktu selama 4 jam di rumah sakit dalam satu kali terapi penyembuhan. Tentunya proses tersebut akan sangat melelahkan dan membuat stress apalagi dengan kondisi tubuh yang tidak lagi bugar.

Berdasarkan beberapa sumber terpercaya, diperkirakan dalam setahun terdapat 1,4 juta kasus kanker payudara baru di dunia. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2012 tercatat sekitar 48.998 kasus kanker payudara. Berdasarkan research yang dilakukan GLOBOCAN sendiri diprediksi akan terjadi 58.799 kasus kanker payudara baru. Berdasarkan Prof. Abdul Kadir, Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dari sekitar 1000 pasien kanker yang datang ke RS Dharmais, 42% nya adalah penderita kanker payudara. Mengerikan bukan?

Diskusi bersama dengan Prof. Abdul Kadir, Dr. Diah Ayu Puspandari, Suster Musrini, dan Dr. dr.  Nugroho Prayogo

Dr. Diah Ayu Puspandari, Direktur KPMAK Univ. Gajah Mada mengatakan dari sekian banyak angka tersebut, hanya 15% saja penderita yang berhasil masuk ke rumah sakit dan memperoleh perawatan medis. Sungguh ironis mendengarnya.

Sebagai informasi, kanker payudara ternyata ada beragam jenis. Salah satunya ialah HER2-positif. Sekitar 22% penderita kanker payudara di Indonesia terdiagnosa menderita kanker payudara tipe HER2-positif. Salah satu obat yang diberikan kepada penderita HER-2-positif ialah Trastuzumab yang umumnya diberikan secara intravena.

Dr. dr. Nugroho Prayogo dengan semangat memaparkan poin-poin seputar kanker payudara pada rekan media dan blogger

Satu-satunya jalan untuk pasien dapat memperoleh obat tersebut ialah pasien harus datang kerumah sakit. Sebelum sampai pada tahap pelaksanaan Trastuzumab Intravena atau Trastuzumab IV, pasien harus menjalani serangkaian procedural administrasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Total waktu yang dibutuhkan pasien dari mulai pendaftaran, penerimaan obat sampai pengawasan sesudah injeksi dan pelepasan infus ialah sekitar 4 jam lamanya. Proses pemberian Trastuzumab IV sendiri memakan waktu 90 menit.

Berita baiknya, kini hadir di Indonesia sebuah revolusi penanganan Trastuzumab Subkutan yang dapat menghemat waktu lebih dari ½ penanganan Trastuzumab Intravena yang umumnya digunakan. Roche sebagai sebuah produsen obat, memungkinkan produksi Trastuzumab Subkutan di Indonesia melalui kerjasama dengan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah.

Keunikan Trastuzumab secara subkutan ialah hanya membutuhkan waktu pemberian obat selama 5 menit. Dengan total keseluruhan waktu yang harus dihabiskan pasien di rumah sakit hanya sekitar 1,4 jam lamanya.

Hal ini tentunya selain dapat menghemat waktu pasien, dapat juga meningkatkan produktivitas pelayanan. Hal ini memungkinkan peningkatan jumlah pasien yang dapat dilayani dalam satu hari. Akan lebih banyak jiwa yang memperoleh akses.

Dari pihak tenaga medis sendiri merasa sangat terbantu dengan penggunaan Trastuzumab Subkutan. Berdasarkan pemaparan Suster Musrini, Kepala Ruangan Unit Poli Onkologi RS Dr. Soetomo Surabaya, penggunaak Trastuzumab Subkutan tidak membutuhkan transfer melalui vena. Trastuzumab dapat diinjeksikan melalui area bawaah kulit pada daerah paha. Pemberian Trastuzumab Subkutan pun dilakukan dengan menggunakan jarum kecil. Sehingga rasa nyeripun dapat dikurangi. Sebagai catatan, Trastuzumab Subkutan memiliki efek langsung ke jantung. Namun efek samping tersebut sifatnya tidak permanen.

Suster Musrini sedang memaparkan keadaan dilapangan
Selain itu, obat yang digunakan pun tidak harus diracik lagi. Sehingga waktu dapat dihemat dengan ditiadakannya waktu tunggu pemesanan obat, waktu racikan dan waktu deliveri obat dari bagian farmasi ke bagian penanganan. Secara ekonomis, cara ini memungkinkan tidak ada obat yang tersisa percuma lagi.

Sebagai catatan, Trastuzumab Subkutan dari pihak Roche sudah terdaftar badan BPOM Indonesia.

Sayangnya, perawatan ini sampai saat ini belum bisa dibiayai oleh BPJS. Namun, dari pihak terkait tentunya sedang bekerja keras untuk memungkinkan perawatan dengan Trastuzumab Subkutan dapat masuk dalam list BPJS sehingga perawatan ini dapat dijangkau oleh penderita dari ekonomi menengah kebawah sekalipun. Semoga segera ada angin segar untuk status Trastuzumab Subkutan di BPJS ya.

No comments