Perjuangan Hidup Pasien Breast Cancer



Breast cancer. Sebagai seorang wanita yang selalu concern dengan payudara, apakah kalian pernah membayangkan kehidupan para pejuang kanker payudara? Atau mungkin disekitar kalian terdapat para pejuang kanker payudara tapi kalian tidak begitu perduli.




Setelah posting di instagram beberapa hari lalu tentang breast cancer, saya menerima notifikasi bahwa sebuah akun instagram bernama @breastcancer_month_2018 menjadi follower saya. Saya tertarik untuk cek feed akun tersebut. Isi feednya dipenuhi dengan potret wanita-wanita pasien breast cancer dari berbagai belahan dunia. Sebagai wujud rasa perduli saya, saya pun follow balik akun tersebut.

Keesekon harinya timeline istagram saya mulai terlihat berbeda. Beberapa kali seliweran postingan foto wanita-wanita berkepala gundul yang tidak saya kenal. Ternyata foto-foto tersebut merupakan postingan akun @breasrcancer_month_2018.

Melalui postingan-postingan tersebut, saya mulai melihat bagaimana perjuangan hidup penderita breast cancer yang didominasi kaum wanita. Mulai dari rambut gundul sampai bekas sayatan di payudara.

Melalui postingan ini, saya ingin share tentang postingan-postingan yang sangat powerful buat saya. Postingan-postingan yang membangkitkan rasa perduli saya pada diri saya sendiri, untuk mencintai dan mensyukuri kesehatan yang Tuhan masih ijinkan untuk saya sampai detik ini.

Bertahan hidup berarti mengorbankan tubuh mulus untuk dipenuhi sayatan.





Saya ngilu melihat postingan ini. Tidak terbayangkan bagaimana perjuangan wanita tersebut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu hari membawa kantung penampung darah dari operasinya yang belum sembuh.

Belum lagi beban batin yang menghantui dengan adanya bekas sayatan pada buah dadanya.

Namun semua itu harus dijalani agar dia bisa bertahan hidup.

Setiap bekas sayatan dan luka di tubuhnya menjadi bukti perjuangannya melawan kanker. Bukti usahanya untuk bertahan hidup.

Kehilangan kedua payudara bukan pilihan, tapi keharusan yang akan dihadapi


Disaat saya gelisah dan sering tidak percaya diri dengan payudara yang kecil, seorang wanita pasien breast cancer sedang berjuang mengatasi rasa stress menghadapi kenyataan bahwa kedua payudara nya harus diangkat.





Payudara merupakan salah satu kebanggaan bagi seorang wanita. Punya payudara kecil saja saya sering stress dan sedih kalau membandingkan milik saya dengan punya teman-teman.

Saya jadi ingat tentang ibu guru saya waktu SD yang mengalami pengangkatan kedua payudaranya di usianya yang masih tergolong muda. Waktu itu karen amasih anak SD saya tidak mengerti apa-apa tentang efek samping yang timbul di kemudian hari setelah pengakatan payudaranya.

Beranjak dewasa, saya mulai membayangkan betapa sulitnya para pejuang kanker payudara yang payudaranya sudah diangkat untuk menjelaskan kepada calon pasangan tentang keadaan mereka. Tentunya tidak semua pria bisa menerima hal tersebut.

Kalaupun sudah menikah, tentunya kehilangan payudara bukan hanya penderitaan bagi sang istri, tapi juga menjadi beban bagi para suami. Yah kita berpikir secara normal saja lah ya.

Fakta miris kasus kanker payudara di Indonesia


Tidak sedikit dari para pejuang kanker payudara yang sudah melewati serangkaian operasi pun harus berhadapan dengan ajalnya karena tubuh sudah tidak kuat menghadapi serangan sel kanker yang menyebar ke organ-organ vital.

Tidak sedikit penderita kanker yang memperoleh ultimatum waktu hidupnya tinggal beberapa tahun hingga beberapa bulan setelah terdiaknosa kanker payudara karena ketika diagnosa pertama sudah berada pada stadium lanjut yang sudah sulit penyembuhannya.

Berdasarkan catatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia, di Indonesia sendiri, hanya 7.3% penderita kanker payudara terdiagnosa pada stadium awal. Sisanya stadium lanjut. 

Dengan fakta bahwa mayoritas pasien kanker terdeteksi pada stadium lanjut ini menjadi pertanyaan besar bagi saya tentang “HOW COME?”

Apakah awareness akan ciri-ciri kanker payudara masih rendah pada masyarakat kita? Ataukah masih banyak yang menganggap hal ini tabuh untuk diperbincangkan pada anggota keluarga & lingkup pertemanan saat seseorang merasa ada yang ganjil dengan payudaranya?

Bagaimana menurut kalian? Haruskah perihal kanker payudara ini diselipkan dalam kurikulum sex education yang mulai diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia?


dan... sudahkah kamu mengecek payudaramu?

No comments