Pengalaman Makan Daging Mentah di Seattle


Kala itu saya baru tiba di Seattle. Hari pertama melangkahkan kaki di kota yang terkenal dengan julukan kota kopi ini. Setelah beristirahat sebentar dan mandi (maklum sudah 24 jam tidak mandi) di hotel, saya dan saudara saya lalu untuk keluar cari makan. Tidak disangka, Seattle dingin sekali hari itu.

Ditengah perjalanan, saya terpikat dengan bangunan bertembok hitam di seberang jalan. Unik. Jarang sekali ada bangunan yang dicat hitam seluruhnya seperti bangunan yang satu itu. Kami pun menyebrang jalan untuk mendekati bangunan tersebut. Ternyata bangunan tersebut adalah restoran. Tepat sekali karena kebetulan kami sedang mencari tempat makan.

Kami pun memutuskan untuk masuk restoran tersebut. Sayang sekali saya tidak mengabadikan penampakan luar bangunannya. Maklum, terlalu excited saat itu.

Ternyata, penampakan di dalamnya pun tidak kalah memikat hati dari penampilan luarnya. Ketika memasuki The Butcher’s Table, selain terpana dengan interior yang juga berkonsep serba hitam ini, saya juga langsung terpana dengan ornament lampu berbentuk bongkahan es yang berada di belakang meja receptionist. Sangat artistik. Dilihat dari sisi mana pun, ornament lampu ini terlihat sangat outstanding. Sepertinya ornament ini menjadi highlight dari interior design bangunan ini.

Ornament yang menarik hati
Setelah menunggu sebentar, kami pun diantar pramusaji menuju meja yang sudah disediakan untuk kami. Beruntung sekali meja kami letaknya sangat strategis. Kami mendapat meja dekat kaca transparan yang memisahkan dapur dengan area makan. Melalui kaca tersebut, saya bisa mengintip langsung bagaimana proses steak dipanggang di restoran ini (bocah makin excited).

Setelah memesan makanan dan minuman, saya lalu berdiri dari tempat duduk untuk eksplor restoran ini sembari menunggu pesanan kami datang.

Restoran yang berkonsep serba hitam ini namanya The Butcher’s Table. Jadi pantas saja kalau menu andalannya steak. Tidak hanya sebagai restoran, The Butcher’s Table juga merangkap sebagai bar dan toko daging loh.
Showcase di bagian toko dagingnya
Jangan membayangkan toko daging yang berantakan penuh darah dimana-mana ya! Ini toko dagingnya versi bersih. Letaknya pun di dalam restoran ini. Kamu tidak akan melihat becek darah dan mencium bau amis daging mentah. Semuanya disajikan dengan rapih dalam lemari showcase yang tebuat dari kaca. Dagingnya ditata rapih di atas piring berwarna putih dan beralaskan kain seperti napkin berwarna hitam. Disana juga tertera lengkap nama serta harga setiap bagiannya. Jangan salah lihat, harga yang tertera itu per 0.5 pounds ya!



Bagian barnya pun tidak kalah menarik loh. Berbagai macam minuman beralkohol disusun rapih dirak yang menempel ke dinding bangunan ini. Saat itu area bar ramai sekali. Kelihatannya area tersebut dipenuhi karyawan di sekitar sini yang baru pulang kerja (lumayan buat cuci mata). Chill out time dengan teman-teman satu kantor nampaknya. Karena ramai, di bagian sana juga lumayan berisik. Maklum saja karena restoran ini berlokasi di area pusat kota Seattle. Dimana terdapat banyak bangunan tinggi menjulang. Seperti area Sudirman di Jakarta gitu tapi minus polusinya.

Menjajal Daging Mentah dan Makan Kembang bak Suzana

Menu pembuka kami... penasaran kan itu apa!

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan pembuka kami datang. Saya tidak protes kalau pesanan kami lama datangnya. Wajar saja. Kan semua menu yang disajikan dibuat dari bahan segar. Dimasak hanya saat ada yang memesan. Kalau mau cepat yah ke rumah makan fast food. Toh makanan kami lama disajikan bukan karena para koki dan staf dapur kerjanya santai atau lelet. Mereka sangat cekatan dalam setiap gerakan (saya tahu karena sudah ngintip dari kaca transparan tadi dong).

Kami pesan 2 menu untuk makanan pembuka. Beef Carpaccio dan Grilled Octopus. Yang pesan semua menunya itu saudara saya. Maklum, saya masih buta akan list menu di sini. Tidak tahu mana yang kira-kira enak. Bingung harus pesan apa enaknya. Dan tidak disangka ajang makan malam kali ini jadi ajang pertemuan pertama saya dengan Beef Carpaccio.

Beef Carpaccio

Apa yang special dari Beef Carpaccio? Itu menu yang disajikan dari daging sapi mentah! Yes! Raw beef! Mentah, tidak dimasak sama sekali. Kalau raw fish mah saya sudah biasa. Memang doyan. Tapi kalau raw meat, belum pernah sama sekali. Tapi tidak ada rasa geli sih untuk mencoba. Karena penampilan penyajiannya cantik. Saya lupa itu saus apa yang ada dibawah irisan daging sapinya. Tapi perpaduan saus warna hijau dan daging sapi mentah berwarna pink yang kontras terlihat serasi. Menarik. Malah jadi semakin penasaran untuk dicoba.

Ketika masuk di mulut… hmmm benar saja. Rasanya bikin pengen nambah terus. Karena mentah, dagingnya tidak keras dan harus dikunyah lama. Sekali gigt, dagingnya seperti melelh di mulut. Terus, irisan roti dibawahnya itu hmmm… saya bingung harus mengambarkan rasanya seperti apa. Rotinya itu diberi siraman minyak. Sepertinya minyak zaitun, tapi saya tidak tahu pasti. Yang jelas, minyaknya itu membuat si roti jadi juicy. Lalu, kalau kalian perhatikan, itu ada taburan bunga-bunga berwarna ungu. Nah bunga-bunga ini saat masuk ke mulut, menimbulkan sensasi seperti digigit semut. Haha… saya enggak tahu apa sensasi ini cuma dirasakan saya saja mungkin. Saya berasa Suzana, makan kembang.

Grilled Octopus

Lalu menu kedua, Grilled Octopus. Yap, benar! Ini gurita. Kalau menurut saya sih guritanya agak keras, lebih enak kalau sedikit lebih mentah (sepertinya saya ini penikmat makanan dengan tingkat kematangan rare). Butuh usaha lebih untuk mengunyah si gurita. Jadi, saya lebih suka untuk memotong si gurita dalam ukuran yang kecil kecil banget. Sehingga, tidak perlu lama dikunyah. Nah yang saya suka dari Grilled Octopus ini, si minyaknya. Saya fans berat minyak yang ada di piring penyajian menu ini. Sampai-sampai, roti pendamping Beef Carpaccio tadi saya cocolin ke minyak di piring gurita ini. Dan lagi-lagi, si kembang-kembang mini ada lagi di piring penyajiannya.

Ternyata, orang sini juga suka makan kembang haha…

Note:
Photo Credit: The Butcher's Table by EatInSeattle (http://www.eatinseattle.com/wp-content/uploads/2016/04/sugarmtn.jpg)

6 comments

  1. Halo! Gw baru tau kalo elo punya blog. Seneng liatnya, blognya rapi dan terlihat tertata, ga asal tulis aja. See you when I see you!

    ReplyDelete
  2. Thank you oppa Keegan udah mampir! Blognya masih dalam pengembangan. Masih banyak yg belum rapi 😅
    But I try my best to provide easy-to-read blog for my reader.

    ReplyDelete
  3. Suatu saat aku juga bakal menapaktilasi jejak travelingmu, wahai blogger kece!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak aku masih remahan rengginang ^.^'
      Mbak nurul mbah udh senior ngeblognya 🙏🏻

      Semoga dilancarkan rejeki untuk bisa terus traveling ya mbak! Amin.

      Delete
  4. aku belum pernah makan raw meet, tapi baca cerita di atas beneran ngiler dan pengen nyoba deh.. di sini di mana yah resto yg jual semacam beef carpaccio gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, belum nemu juga nih di Jakarta resto yang jual beef carpaccio. kan asik buat nge-prank temen yang ultah. dibawa ke sana trus suruh makan beef carpaccio. pas udah neles, baru kita kasih tau kalau itu daging mentah. yaampun otak jahil banget saya.

      Delete